Kenapa Menyantap Makanan Pedas Sering Bikin Ingusan

Kenapa Menyantap Makanan Pedas Sering Bikin Ingusan


Makan makanan pedas pasti menciptakan mulut panas terbakar. Bukan melulu itu, mata dan hidung pun jadi berair. Meski tidak sedang pilek, Anda barangkali harus sejumlah kali menyeka ingus yang terus terbit dari hidung. Mengapa urusan ini dapat terjadi?

Kenapa santap makanan pedas buat hidung ingusan?

Umumnya makanan pedas pasti memakai cabai dan lada. Kedua rempah ini berisi capsaicin, yakni zat yang mengakibatkan sensasi terbakar saat bersentuhan dengan jaringan tubuh, laksana di kulit, mulut, atau mata Anda. Sementara rasa pedas dari wasabi (penambah rasa pedas khas Jepang) atau mustard berasal dari allyl isothiocyanate. Nah, zat pedas pada cabai atau wasabi berikut yang menciptakan hidung kita jadi ingusan.

Capsaicin dan allyl isothiocyanate yang masuk ke mulut bisa mengiritasi selaput lendir. Awalnya lendir di buatan sesuai keperluan untuk mengayomi saluran pernapasan kita dari agen infeksi, laksana jamur, bakteri, dan virus. Namun, adanya iritasi dari capsaicin dan allyl isothiocynate memicu produksi lendir jadi lebih banyak. Kelebihan lendir berikut yang menciptakan hidung meler saat santap makanan pedas.

Lalu bagaimana mengatasinya?

Jangan khawatir, hidung meler sebab makanan pedas bertolak belakang ketika kita sedang pilek. Kondisi ini bakal membaik dengan sendirinya sampai-sampai tidak butuh obat. Anda melulu perlu meredakan rasa pedas lebih cepat, salah satunya dengan minum susu.

Susu bertolak belakang dengan air putih biasa. Susu berisi protein kasein yang dapat menghapus efek capsaicin atau allyl isothiocyanate pada mulut Anda. Sementara air putih tidak menciptakan sensasi panas cepat hilang. Alih-alih guna menghilangkan rasa pedas, Anda justeru jadi kembung.

Di samping makanan pedas, bisakah hidung ingusan sebab makanan lain?

Normalnya, hidung bakal berair saat santap makanan pedas. Namun, andai makanan yang dicicipi bukan makanan pedas dan hidung tetap berair, Anda butuh mencurigainya. Kemungkinan besar situasi tersebut diakibatkan oleh masalah medis, seperti:

Berbagai macam rhinitis, laksana rinitis gustatory, rinitis alergi, atau rinitis vasomotor. Kondisi ini mengakibatkan hidung pilek dan gatal ketika mengonsumsi makanan tertentu.

Alergi makanan tertentu seringkali menyebabkan hidung pilek, bersin, kulit gatal, dan reaksi tidak mengasyikkan lainnya setelah merasakan makanan tertentu.
Baca selengkapnya »
Konsekuensi Menggunakan Ban Besar di Sepeda Motor

Konsekuensi Menggunakan Ban Besar di Sepeda Motor


Penggunaan ban motor dengan profil dan ukuran yang lebih banyak sebenarnya sah-sah saja dilakukan. Di samping tampilan jadi lebih gambot, rasa berkendara pun makin stabil.

Saat dikendarai, rasa pede juga memuncak sebab motor agak semakin tinggi sebab ukuran ban lebih jadi lebih tinggi dan menikung juga terasa lebih nurut. 

Tapi bukannya tanpa aturan, pemakaian ban dengan ukuran yang lebih banyak ini mesti dicocokkan dengan lebar tabung suspensi dan ruang spakbor. Apabila kelewat lebar dan besar, ban dapat gasruk tentang spakbor. 

Sebagai misal kasus, kami pernah mengubah ban depan bawaan Vario 125 dari 80/90 menjadi 100/80. Dalam artian, mengubah ban naik dua nomor, dari 80 menjadi 100. 

Secara visual, jelas tampilannya jadi kian gagah. Pun dengan jarak antar tabung suspensi, masih terdapat ruang yang lumayan lebar sampai-sampai bagian sangat pinggir ban tidak bergesekan. 

Sayangnya kami luput pada jarak dan ruang bebas pergerakan si suspensi depan. Padahal dengan ban yang lebih tinggi, logikanya ruang gerak suspensi pada spakbor akan tidak banyak berkurang, bisa-bisa permukaan ban akan gampang gasruk dengan spakbor. 

Dan benar saja. Hanya saja untuk fenomena ini sebetulnya tidak begitu dialami ketika berkendara secara normal. Rasa berkendara yang bertolak belakang dirasakan saat melakukan rem mendadak. 

Ada tidak banyak sentakan dan bunyi benturan 'cletok' yang disertai dengan suara gesekan ban di lokasi spakbor depan. Namun tidak hingga mengganggu performa pengereman, dalam artian feeling-nya masih sama pengereman motor biasa.

Berdasarkan keterangan dari Juki, penggawa bengkel spesialis motor matik R59 Matic Shop, ban yang terlampau besar buat permukaannya bergesekan dengan spakbor, ketika terjadi buaian ketika mengerjakan pengereman. 

"Kan pas ngerem turun tuh (berayun), lagipula dadakan turunnya kan ke bawah banget, nah pas saat tersebut spakbor ikutan turun jadinya kena ban, sebab ban muter, kena spakbor, jadi deh ban unsur tepinya gasruk," kisah Juki.

Ketika dicek, tepian ban terdapat baret halus walau tidak terlampau terkikis. Sementara melongok ke permukaan unsur dalam spakbor depan, terdapat bekas gesekan dengan lokasi tepian ban tadi. 

Untuk pencegahan terjadinya gasruk atau gesekan yang terus menerus, terdapat dua teknik yang dapat dilakukan, yakni buat coakan pada spakbor atau ganti ban dengan ukuran yang tidak terlampau besar laksana 100/80. 

Namun guna mencoak spakbor, rasanya bakal sayang dilaksanakan karena dapat mengolah bentuknya, lagipula spakbor original bawaan pabrikan. Sementara mengubah ban, tentunya harus menyiapkan duit yang cukup.

Teringat keterangan Aldrin, empunya Rumah Ban Motor di distrik Lebak Bulus, Jakarta Selatan, usahakan ganti ban tidak boleh terlalu besar dan lebar, lumayan naik satu nomor saja telah cukup.
Baca selengkapnya »
Mitos Payudara Kendur yang Terbukti Keliru

Mitos Payudara Kendur yang Terbukti Keliru


Payudara menjadi kehormatan hati kebanyakan wanita. Namun, terdapat saja masalah seputar payudara yang buat minder. Salah satunya yang sangat umum ialah payudara kendur (ptosis). Kata orang, menyusui dan olahraga disebut-sebut dapat menyebabkan payudara mengendur. Nah, lho! Apa kata dunia medis soal ini?

Mitos yang beredar mengenai payudara kendur

1. Menyusui buat payudara kendur

Mungkin Anda tidak jarang mendengar bisik tetangga yang bilang menyusui menciptakan payudara jadi mengendur. Namun, pada prakteknya kehamilanlah yang menciptakan payudara mengendur, bukan masa menyusui.

Selama masa kehamilan, terjadi evolusi hormonal dan eskalasi berat badan guna mempersiapkan buatan ASI. Hal ini mengakibatkan ukuran payudara jadi ikut membesar.

Ukuran payudara yang membesar itu mungkin menciptakan ligamen tidak banyak meregang. Namun, situasi tersebut melulu terjadi sedangkan saja. Setelah masa menyusui selesai, payudara bakal kembali normal.

2. Bra menangkal payudara kendur

Selama ini anda berpikiran bahwa faedah utama bra ialah untuk menangkal payudara mengendur. Padahal, bra hanya bermanfaat untuk menopang dan mengusung payudara agar tampilan bentuknya lebih optimal. Memakai bra tidak akan menangkal pengenduran payudara dampak gravitasi dan usia.

Pengecualian pada ketika Anda berolahraga yang mengakibatkan payudara terus bergerak naik turun. Misalnya jogging atau lompat tali. Gerakan berulang ini bisa meregangkan otot ligamen payudara yang bermanfaat menahan lemak dan jaringan beda di dalamnya.

Namun, risiko payudara mengendur lebih dini dampak olahraga bisa Anda cegah dengan menggunakan bra olahraga alias sports bra.

3. Pengenduran payudara tidak dapat dihindari

Semakin usia meningkat tua, khususnya menjelang menopause, buatan kolagen dalam kulit semakin tidak banyak sehingga payudara Anda bakal semakin mengendur.

Payudara kendur memang menjadi salah atu tanda penuaan pada wanita. Meski begitu, bukan berarti kita tidak dapat memperlambat proses pengendurannya semenjak dini.

Studi mengindikasikan bahwa perempuan yang keunggulan berat badan dan mengisap rokok berisiko merasakan pendenguran payudara kendur lebih cepat. Di sisi lain, menjalani penurunan berat badan secara menyeluruh dalam masa-masa cepat juga dapat membuat payudara mengendur.

Jadi, usahakan konsultasi dulu pada dokter sebelum menyimpulkan berdiet dan hindari/berhenti merokok.

4. Payudara kecil tidak dapat mengendur

Ukuran payudara yang besar bakal lebih jelas tampak mengendur dikomparasikan payudara yang kecil. Namun, tersebut tidak berarti payudara kecil tidak bakal kendur sama sekali.

Payudara yang kecil tetap bakal mengendur seiring meningkatnya usia, tetapi efeknya memang tidak begitu kentara. Hal ini terjadi sebab jaringan yang tertarik ke bawah lebih tidak banyak jika dikomparasikan dengan payudara besar.
Baca selengkapnya »