Konsekuensi Menggunakan Ban Besar di Sepeda Motor


Penggunaan ban motor dengan profil dan ukuran yang lebih banyak sebenarnya sah-sah saja dilakukan. Di samping tampilan jadi lebih gambot, rasa berkendara pun makin stabil.

Saat dikendarai, rasa pede juga memuncak sebab motor agak semakin tinggi sebab ukuran ban lebih jadi lebih tinggi dan menikung juga terasa lebih nurut. 

Tapi bukannya tanpa aturan, pemakaian ban dengan ukuran yang lebih banyak ini mesti dicocokkan dengan lebar tabung suspensi dan ruang spakbor. Apabila kelewat lebar dan besar, ban dapat gasruk tentang spakbor. 

Sebagai misal kasus, kami pernah mengubah ban depan bawaan Vario 125 dari 80/90 menjadi 100/80. Dalam artian, mengubah ban naik dua nomor, dari 80 menjadi 100. 

Secara visual, jelas tampilannya jadi kian gagah. Pun dengan jarak antar tabung suspensi, masih terdapat ruang yang lumayan lebar sampai-sampai bagian sangat pinggir ban tidak bergesekan. 

Sayangnya kami luput pada jarak dan ruang bebas pergerakan si suspensi depan. Padahal dengan ban yang lebih tinggi, logikanya ruang gerak suspensi pada spakbor akan tidak banyak berkurang, bisa-bisa permukaan ban akan gampang gasruk dengan spakbor. 

Dan benar saja. Hanya saja untuk fenomena ini sebetulnya tidak begitu dialami ketika berkendara secara normal. Rasa berkendara yang bertolak belakang dirasakan saat melakukan rem mendadak. 

Ada tidak banyak sentakan dan bunyi benturan 'cletok' yang disertai dengan suara gesekan ban di lokasi spakbor depan. Namun tidak hingga mengganggu performa pengereman, dalam artian feeling-nya masih sama pengereman motor biasa.

Berdasarkan keterangan dari Juki, penggawa bengkel spesialis motor matik R59 Matic Shop, ban yang terlampau besar buat permukaannya bergesekan dengan spakbor, ketika terjadi buaian ketika mengerjakan pengereman. 

"Kan pas ngerem turun tuh (berayun), lagipula dadakan turunnya kan ke bawah banget, nah pas saat tersebut spakbor ikutan turun jadinya kena ban, sebab ban muter, kena spakbor, jadi deh ban unsur tepinya gasruk," kisah Juki.

Ketika dicek, tepian ban terdapat baret halus walau tidak terlampau terkikis. Sementara melongok ke permukaan unsur dalam spakbor depan, terdapat bekas gesekan dengan lokasi tepian ban tadi. 

Untuk pencegahan terjadinya gasruk atau gesekan yang terus menerus, terdapat dua teknik yang dapat dilakukan, yakni buat coakan pada spakbor atau ganti ban dengan ukuran yang tidak terlampau besar laksana 100/80. 

Namun guna mencoak spakbor, rasanya bakal sayang dilaksanakan karena dapat mengolah bentuknya, lagipula spakbor original bawaan pabrikan. Sementara mengubah ban, tentunya harus menyiapkan duit yang cukup.

Teringat keterangan Aldrin, empunya Rumah Ban Motor di distrik Lebak Bulus, Jakarta Selatan, usahakan ganti ban tidak boleh terlalu besar dan lebar, lumayan naik satu nomor saja telah cukup.

Konsekuensi Menggunakan Ban Besar di Sepeda Motor